Jumat, 17 April 2026

X 18 Apr/ Patrem Betok Pogok Hurab

Pusaka tindih dhapur betok, jika dilihat dari dimensinya
termasuk patrem ( ukuran lebih kecil ).
Dari awal mendapatkan pusaka ini, semula kami kira dari bahan perunggu;
karena bentuknya yang utuh dengan patina yang kehijauan.
Tetapi setelah dibersihkan kerak terluar dan diuji dengan magnet,
barulah terlihat jika materi berbahan dasar besi. 
Pasikutannya dhemes, enak dipandang.
Lipat tempa spasi rapat, tekstur nyabak halus.
Pamor kelengan hurab.
Hurabnya terlihat seperti bercak-bercak putih
yang mirip jarum-jarum bertebaran
( dom kecer - sebutan di Jawa Timur ).
Walau bentuknya kecil, tetapi proporsional.
Bilah hampir tegak, tetapi masih terdapat
sudut condong leleh ke depan.
Bagian tengah bilah sedikit ramping.
Odho-odhonya mencuat menyudut jelas,
dan melengkung seperti busur.
Odho-odho ini menuju ke bawah menjadi
janur yang seperti lidi.
Sogokannya dalam dan indah, mengapit janurnya.
Tepi sogokan bagaikan mecungul.
Gandhiknya kecil, berhias kembangkacang pogok.
Sebenarnya bukanlah murni kembangkacang, 
melainkan perpanjangan tikel alis.
(kembangkacang sederhana) 
- jika mutlak kembangkacang, biasanya selalu diikuti jalen
dan lambe gajah.
Sirah cecaknya kecil dengan gulu meled pendek.
Perut gonjo lebar.
Bagian samping gonjonya cekung indah.
Pesi persegi.
Panjang wilah/pesi: 12cm /4cm
Pusaka ini sudah diwarangi dan dibuatkan 
warangka sandang walikat.
Tangguh estimasi kabudhan ( Singhasari? Daha-napura/Kadiri? )
Telah berpindah status kepemilikan

Baja hurab sebenarnya bukanlah pamor, 
melainkan bercak karbida besi.
Baja hurab cukup langka ditemui saat ini,
karena teknik pembuatannya yang tradisional.
Merupakan cara penyaduran logam jaman dahulu,
dengan unsur tridatu, yaitu wadah cepuk tanah
diisi dengan biji besi/ batuan besi dicampr dengan 
pecahan manik-manik, dan ditaburi rempah-rempah 
atau daun tertentu.
Cepuk ini lalu dibakar semalam suntuk, sampai tiga
unsur didalamnya lebur menyatu.
Besi matang menjadi baja, rempah/daun menjadi
unsur karbon, dan pecahan manik-manik ini 
menyaring kotoran dan unsur lain yang tidak perlu.
Baja karbon mengendap di bawah, kotoran tersaring
manik di bagian atas.
Baja jadi ini (tai besi hurab) yang kemudian ditempa
dan dibentuk menjadi pusaka.

KONDISI KOTOR:






KONDISI MUTIH:



KONDISI SETELAH DIWARANGI/ DIJAMASI: