Sabtu, 20 November 2021

Butho Ijo

 

Pusaka keris dhapur Buto Ijo/ luk 9
Pamor Ngulitsemongko
Pasikutan merbhawani.
Lipat tempa spasi rapat, tekstur ulet, terkesan basah.
Menancapnya pamor mengambang.
Pamor putih dengan beberap bagian akhodiyat tersingkap 
pada tepi pita pamor, khas tangguh Pajang.
Wilah logam matang tempa.
Slorok kelabu kehijauan, dengan besi aten/ hati/ inti hitam kebiruan.
Condhong leleh termasuk derajat condro ( suryo-cobdro-bhawono ).
Sepanjang wilah ber odho-odho dari ujung sampai janur yang menyiku
tidak lebar.
Tarikan luk pertama lebar.
Luk nya tergolong tidak terlalu rengkol, maupun tidak kembo, sekilas
mirip dengan luk Majapahit.
Terdapat sogokan semu satu saja di depan,
disebut sogokan nunggang wasuhan,
yang terbentuk dari himpitan tepi tikel alis yang menonjol.
Gandhiknya tidak menonjol, hampir rata bilah seperti
keris-keris era Majapahit, Singhasari, maupun Kadiri, dan sebelumnya.
Bentuk garis muka gandhiknya pun cekung seperti Majapahit.
Tikel alisnya seperti kail, diukir dalam dan serasi.
Begitu pula dengan blumbangannya, dalam dan lebar.
Garis sraweyan masih terlihat jelas. 
Di salahsatu bagian garis sraweyan terdapat satu bintik pamor munggul.
Sirah cecak lancip dengan alas bagian bawah sedikit cembung.
Buntut cecaknya nguceng mati ( = seperti ekor ikan mati ) khas tangguh Pajang.
Panjang wilah/ pesi: 35cm/ 7cm
Pusaka masih disandangkan warangka bawaannya,
Ladrang kasatrian Solo Lamen kayu trembalu asli. Pendok blewahan.
Deder kemuning lamen.
Mendak parijoto lamen dengan mata batu.
Tangguh estimasi Pajang, tergolong cukup langka.
Mahar Rp. 4.500.000